<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Arif Muchyidin</title>
	<atom:link href="http://muchyidin.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muchyidin.wordpress.com</link>
	<description>Mathematics 4 our life...</description>
	<lastBuildDate>Sun, 14 Feb 2010 15:39:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='muchyidin.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Arif Muchyidin</title>
		<link>http://muchyidin.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://muchyidin.wordpress.com/osd.xml" title="Arif Muchyidin" />
	<atom:link rel='hub' href='http://muchyidin.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Sejarah Persib Bandung</title>
		<link>http://muchyidin.wordpress.com/2008/07/24/sejarah-persib-bandung/</link>
		<comments>http://muchyidin.wordpress.com/2008/07/24/sejarah-persib-bandung/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jul 2008 05:22:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>muchyidin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muchyidin.wordpress.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Sebelum bernama Persib, di Kota Bandung berdiri Bandoeng Inlandsche Voetball Bond ( BIVB ) pada sekitar tahun 1923. BIVB ini merupakan salah satu organisasi perjuangan kaum nasionalis. Tercatat sebagai Ketua Umum BIVB adalah Mr. Syamsudin yang kemudian diteruskan oleh putra pejuang wanita Dewi Sartika, yakni R. Atot. Atot ini pulalah yang tercatat sebagai Komisaris daerah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muchyidin.wordpress.com&amp;blog=4024774&amp;post=18&amp;subd=muchyidin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebelum bernama Persib, di Kota Bandung berdiri Bandoeng Inlandsche Voetball Bond ( BIVB ) pada sekitar tahun 1923. BIVB ini merupakan salah satu organisasi perjuangan kaum nasionalis. Tercatat sebagai Ketua Umum BIVB adalah Mr. Syamsudin yang kemudian diteruskan oleh putra pejuang wanita Dewi Sartika, yakni R. Atot.<br />
<span id="more-18"></span><br />
Atot ini pulalah yang tercatat sebagai Komisaris daerah Jawa Barat yang pertama. BIVB memanfaatkan lapangan Tegallega didepan tribun pacuan kuda. Tim BIVB ini beberapa kali mengadakan pertandingan diluar kota seperti Yogyakarta dan Jatinegara Jakarta.</p>
<p>BIVB kemudian menghilang dan muncul dua perkumpulan lain yang juga diwarnai nasionalisme Indonesia yakni Persatuan Sepak Bola Indonesia Bandung ( PSIB ) dan National Voetball Bond ( NVB ).</p>
<p>Pada tanggal 14 Maret 1933, kedua perkumpulan itu sepakat melakukan fusi dan lahirlah perkumpulan yang bernama Persib yang kemudian memilih Anwar St. Pamoentjak sebagai Ketua Umum. Klub- klub yang bergabung kedalam Persib adalah SIAP, Soenda, Singgalang, Diana,Matahari, OVU, RAN, HBOM, JOP, MALTA, dan Merapi.</p>
<p>Di Bandung pun saat itu pun sudah berdiri perkumpulan sepak bola yang dimotori oleh orang- orang Belanda yakni Voetbal Bond Bandung &amp; Omstreken ( VBBO). Perkumpulan ini kerap memandang rendah Persib. Seolah- olah Persib merupakan perkumpulan “ kelas dua “. VBBO sering mengejek Persib. Maklumlah pertandingan- pertandingan yang dilangsungkan oleh Persib dilakukan dipinggiran Bandung—ketika itu—seperti Tegallega dan Ciroyom.</p>
<p>Masyarakat pun ketika itu lebih suka menyaksikan pertandingan yang digelar VBBO. Lokasi pertandingan memang didalam Kota Bandung dan tentu dianggap lebih bergengsi, yaitu dua lapangan dipusat kota, UNI dan SIDOLIG.</p>
<p>Persib memenangkan “ perang dingin “ dan menjadi perkumpulan sepakbola satu- satunya bagi masyarakat Bandung dan sekitarnya.Klub- klub yang tadinya bernaung dibawah VBBO seperti UNU dan SIDOLIG pun bergabung dengan Persib. Bahkan VBBO kemudian menyerahkan pula lapangan yang biasa mereka pergunakan untuk bertanding yakni Lapangan UNI, Lapangan SIDOLIG ( kini Stadion Persib ), dan Lapangan SPARTA ( kini Stadion Siliwangi ). Situasi ini tentu saja mengukuhkan eksistensi Persib di Bandung.</p>
<p>Ketika Indonesia jatuh ke tangan Jepang. Kegiatan persepakbolaan yang dinaungi organisasi lam dihentikan dan organisasinya dibredel. Hal ini tidak hanya terjadi di Bandung melainkan juga diseluruh tanah air. Dengan sendirinya Persib mengalami masa vakum. Apalagi Pemerintah Kolonial Jepang pun mendirikan perkumpulan baru yang menaungi kegiatan olahraga ketika itu yakni Rengo Tai Iku Kai.</p>
<p>Tapi sebagai organisasi bernapaskan perjuangan, Persib tidak takluk begitu saja pada keinginan Jepang. Memang nama Persib secara resmi berganti dengan nama yang berbahasa Jepang tadi. Tapi semangat juang, tujuan dan misi Persib sebagai sarana perjuangan tidak berubah sedikitpun.</p>
<p>Pada masa Revolusi Fisik, setelah Indonesia merdeka, Persib kembali menunjukkan eksistensinya. Situasi dan kondisi saat itu memaksa Persib untuk tidak hanya eksis di Bandung. Melainkan tersebar diberbagai kota, sehingga ada Persib di Tasikmalaya, Persib di Sumedang, dan Persib di Yogyakarta.</p>
<p>Pada masa itu prajurit- prajurit Siliwangi hijrah ke ibukota perjuangan Yogyakarta. Baru tahun 1948 Persib kembali berdiri di Bandung, kota kelahiran yang kemudian membesarkannya.<br />
Rongrongan Belanda kembali datang, VBBO diupayakan hidup lagi oleh Belanda ( NICA ) meski dengan nama yang berbahasa Indonesia Persib sebagai bagian dari kekuatan perjuangan nasional tentu saja dengan sekuat tenaga berusaha menggagalkan upaya tersebut. Pada masa pendudukan NICA tersebut, Persib didirikan kembali atas usaha antara lain, dokter Musa, Munadi, H. Alexa, Rd. Sugeng dengan Ketua Munadi.</p>
<p>Perjuangan Persib rupanya berhasil, sehingga di Bandung hanya ada satu perkumpulan sepak bola yakni Persib yang dilandasi semangat nasionalisme. Untuk kepentingan pengelolaan organisasi, decade 1950- an ini pun mencatat kejadian penting. Pada periode 1953- 1957 itulah Persib mengakhiri masa pindah- pindah secretariat. Walikota Bandung saat itu R. Enoch, membangunkan Sekretariat Persib di Cilentah.</p>
<p>Awal Persib memiliki gedung yang kini berada di Jalan Gurame, adalah upaya R. Soendoro, seorang overste replubiken yang baru keluar dari LP Kebonwaru pada tahun 1949. Pada waktu itu, melalui kepengurusan yang dipimpinnya, Soendoro menghadap kepada R. Enoch yang kebetulan kawan baiknya. Dari hasil pembicaraan, Walikota mendukung dan memberikan sebidang tanah di Jalan Gurame sekarang ini.</p>
<p>Pada saat itu, karena kondisi keuangan yang memprihatinkan, Persib tidak memiliki dana untuk membangun gedung, Soendoro kembali menemui Walikota dan menyatakan, “ Taneuh puguh deui, tapi rapat ditiungan ku langit biru,” kata Soendoro.<br />
Akhirnya Enoch juga membantu membangun gedung yang kemudian mengalami dua kali renovasi. Kiprah Soendoro sendiri didunia sepak bola diteruskan putranya, antara lain, Soenarto, Soenaryono, Soenarhadi, Risnandar, dan Giantoro serta cucunya Hari Susanto.</p>
<p>Dalam menjalankan roda organisasi beberapa nama yang juga berperan dalam berputarnya roda organisasi Persib adalah Mang Andun dan Mang Andi. Kedua kakak beradik ini adalah orang lapangan Persib. Tugas keduanya, sekarang ini dilanjutkan oleh putra dan menantunya, Endang dan Ayi sejak 90-an. Selain juga staf administrasi Turahman.</p>
<p>Renovasi pertama dilakukan pada kepemimpinan Kol. CPM Adella ( 1953- 1963 ). Kini sekretariat Persib di Jalan Gurame itu sudah cukup representatif, apalagi setelah Ketua Umum H. Wahyu Hamijaya ( 1994- 1998 ) merenovasi gedung tersebut sehingga menjadi kantor yang memadai untuk mewadahi berbagai kegiatan kesekretariatan Persib.</p>
<p>Kemampuan Persib menjaga nilai- nilai dan tradisinya serta menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman tentu tidak lepas dari figur Ketua Umum bukan hanya figur yang berkemampuan mengelola organisasi dalam artian agar organisasi itu terus hidup, melainkan juga figur yang mampu menggali potensi dan mengakomodasikan kekuatan yang ada, sehingga kiprah Persib dalam kancah sepakbola nasional terus berlangsung lewat berbagai karya Persib.</p>
<p>(persib-bandung.or.id)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/muchyidin.wordpress.com/18/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/muchyidin.wordpress.com/18/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muchyidin.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muchyidin.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muchyidin.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muchyidin.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muchyidin.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muchyidin.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muchyidin.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muchyidin.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muchyidin.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muchyidin.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muchyidin.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muchyidin.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muchyidin.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muchyidin.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muchyidin.wordpress.com&amp;blog=4024774&amp;post=18&amp;subd=muchyidin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muchyidin.wordpress.com/2008/07/24/sejarah-persib-bandung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">muchyidin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Islam dan Matematika</title>
		<link>http://muchyidin.wordpress.com/2008/06/21/islam-dan-matematika/</link>
		<comments>http://muchyidin.wordpress.com/2008/06/21/islam-dan-matematika/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jun 2008 08:03:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>muchyidin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Matematika Kita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muchyidin.wordpress.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Matematika tidak hanya memiliki nilai kebenaran bukti tapi juga nilai keindahan yang agung. Saya kagum dengan ungkapan Bertrand Russel mengenai matematika: “suatu keindahan, bagai ukiran, tanpa memohon belas kasih bantuan alam, tanpa keindahan musik yang menjerat dan memikat, keindahannya murni dan agung, mampu menuju kesempurnaan, sungguh merupakan seni teragung yang pernah dimiliki oleh seni itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muchyidin.wordpress.com&amp;blog=4024774&amp;post=17&amp;subd=muchyidin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="post-body entry-content">Matematika tidak hanya memiliki nilai kebenaran bukti tapi juga nilai keindahan yang agung. Saya kagum dengan ungkapan Bertrand Russel mengenai matematika: “suatu keindahan, bagai ukiran, tanpa memohon belas kasih bantuan alam, tanpa keindahan musik yang menjerat dan memikat, keindahannya murni dan agung, mampu menuju kesempurnaan, sungguh merupakan seni teragung yang pernah dimiliki oleh seni itu sendiri”.<br />
<span id="more-17"></span>Kemudian saya tertegun dengan komentar St Augustine, pemikir Kristen terkemuka abad pertengahan: “pemeluk Kristen yang baik dan taat harus menghindari ahli matematika. Bahaya besar telah tiba karena para ahli matematika telah mengadakan akad dengan setan untuk menggelapkan jiwa manusia dan mengurungnya dalam ikatan neraka”.<br />
Tak kalah garang, para hakim agung Roma membuat slogan hukum: ”dalam mempelajari geometri, ilmu yang tercela dan terkutuk seperti matematika adalah HARAM hukumnya”.<br />
Dua belas abad kemudian, Ahmad Sirhindi menjuluki ahli matematika sebagai orang idiot dan para pemujanya lebih tolol dan hina karena dia mengira bahwa matematika dan mempelajari matematika tidak ada manfaatnya untuk kehidupan manusia kelak di akhirat nanti.<br />
Kecaman keras terhadap matematika ini terjadi pada zaman medieval yang terkenal obscure, dogmatic dan irrasional. George Sarton membagi History of Science dalam beberapa zaman, setiap zaman berasosiasi pada seorang pemikir ternama, dan berakhir pada setiap setengah abad. Dari 450 BC sampai 400 BC adalah era Plato, dari 400 sampai 350 BC adalah era Aristotle dan seterusnya.<br />
750 M sampai 1100 M adalah merupakan zaman dimana dalam kurun 350 tahun secara keseluruhan peradaban dan ilmu didominasi oleh dunia Islam, zaman yang tak terkalahkan secara berturut-turut muncul nama-nama dari Jabir, al-Khawarizmi, ar-Razi, al-Mas’udi, al-Wafa, al-Biruni dan Umar Khayyam. Dan hanya setelah abad ke-11 M barulah muncul nama-nama seperti Gerard dan Roger Bacon. Tapi kehormatan atas ilmu masih disandang ulama-ulama Muslim dalam kurun dua abad berikutnya yaitu Ibn Rushd, Nashiruddin at Thusi dan Ibnu Nafis.<br />
Namun setelah 1350 M umat Islam tenggelam dalam samudra dogmatis yang hanya menelurkan beberapa ilmuwan handal pada abad 15 M.<br />
Sejarah mengungkapkan fakta bahwa scientific brilliance selalu dibarengi dengan perkembangan matematika. Pada kenyataanya penemuan-penemuan matematik telah memuluskan jalan menuju kemajuan spektakuler dalam sejarah ilmu dan teknologi. Tidak ada satu negarapun yang pernah mencapai kesuksesannya tanpa penguasaan matematika. Ketika umat Islam mendominasi dunia sains, mereka sangat hebat dalam matematika.<br />
Musa al khawarizmi (780-850 M) merupakan salah satu dari scientific minds of Islam, yang mempunyai pengaruh dalam pemikiran matematika lebih dari ilmuwan abad pertengahan manapun. Dia tidak hanya menyusun buku aritmetika namun juga tabel-tabel astronomi. Magnum opusnya hisab al jabr wa-l-muqabalah telah diterjemahkan kedalam bahasa latin dan digunakan selama empat abad sebagai buku panduan utama dalam mata kuliah aljabar di universitas-universitas terkemuka di seluruh Eropa.<br />
Dengan mengenalkan jumlah yang tidak diketahui kemudian menemukannya, aljabar menjadi the open-sesame untuk berbagai penemuan; the be-all dan end-all dari semua ilmu sains.<br />
Penyair ternama; dan juga ahli matematika yang handal Omar Khayyam (1048-1122 M) dan Nashiruddin at Thusi (1201-1274 M) menunjukkan bahwa setiap besaran rasio, yang sepadan maupun tidak, adalah bilangan, rasional maupun irrasional. Dan teori tersebut kemudian secara pelan dan lambat menuju kesempurnaannya disaat bermulanya zaman renaissance di Eropa.<br />
Iqbal, pemikir kenamaan asal Pakistan memuji at Thusi Karena telah melontarkan pertanyaan terhadap the uclidean postulate atas pararelism. Omar khayyam merupakan ilmuwan pertama yang membuktikan bilangan dari teori non-euclidean geometry yang nantinya ditemukan oleh Lobchersky, Riemann dan Gauss secara terpisah selama pertengahan abad 19 M.<br />
Omar Khayyam telah mendahului sejak 7 abad sebelum mereka, yang mana dikemudian hari, Einstein menggunakan the non-euclidean geometry untuk mengantarkannya pada “dunia baru” dalam bidang sains. Tidak ada petunjuk dan rumusan yang tidak dipecahkan oleh Umar Khayyam. Beliau juga mulai menggunakan grafik untuk mengkombinasi aljabar dan geometri untuk membuktikan persamaan kubik.<br />
Pasti akan selalu diingat bahwasanya seorang jenius bernama Descartes yang kemudian memperagakan the tour de force dari kombinasi aljabar dan geometri, bersamaan dengan penemuan filsafat barunya dengan diktumnya yang terkenal: “cogito ergo sum”.<br />
Belum ada lagi pemikir dunia Muslim yang mengikuti jejak Umar Khayyam dan menguatkan rasionalism, karena Imam Ghazali telah “terlanjur” menulis tahafutul falasifah. Memang, Ibnu Rushd kemudian juga menulis tahafut tahafut. Namun sayangnya dunia Muslim menolaknya, sebaliknya orang Eropa berebut mengambilnya. Orang Eropa menjadi averoist; pengikut setia Ibn Rushd.<br />
Al Biruni sukses dengan the idea of function, yang mana menurut Spengler, adalah simbol barat yang mana tidak ada peradaban lain yang bisa memberikannya walaupun hanya sekedar petunjuk dan gambaran. The idea of function yang dilontarkan al-Biruni mengenalkan konsep inter-dependence dan movement, melihat dunia sebagai sebuah kumpulan proses inter-dependence.<br />
Konsep ini merupakan konsep dialektik. Namun lagi-lagi disayangkan bahwa umat Islam tidak bisa mengembangkan embrio yang brilliant tersebut, dan akhirnya konsep tersebut berhibernasi selama berabad-abad karena umat Islam terbuai dalam lantunan ninabobo dogmatism dan irrationalism. Embrio tersebut baru muncul dan lahir kembali tatkala tersentuh oleh peradaban barat, sungguh ironis. Ide yang dinamis tidak akan pernah maju dalam lingkungan masyarakat yang statis!.<br />
Akhirnya pada abad ke 17 M secara tragis namun desisif , supremasi sains berputar “melawan” dunia Muslim, sungguh sayang……..<br />
Geometri Descartes diterbitkan pada tahun 1637 M. Ahmad Sirhindi meninggal pada tahun 1624 M, namun dia sudah terlanjur mengutuk matematika dengan ungkapan yang tegas dan lugas. Dengan mengecam matematika, kita telah melangkah jauh keluar dari parade barisan ilmu sains dan teknologi.<br />
Seperdelapan dari ayat-ayat al-qur’an menekankan tadabbur, tafakkur dan ta’aqqul. Implikasinya adalah bahwasanya al-quran menjunjung tinggi supremasi akal. Tatkala kita menolak akal dengan mudah kita akan menjadi korban obscurantism dan dogmatism. Worldview kita masih medieval. Islam telah menjalani transformasi dari revolusi aljabar menuju stagnasi aritmetik.<br />
Tidak akan pernah berkembang matematika dan ilmu sains serta teknologi kecuali apabila dan hingga weltanshauung (worldview, red.) kita telah bersandar pada asas tafakkur tadabbur dan menjadikan ta’aqqul sebagai penjaga “pintu masuk” dunia Islam.<br />
Islam bukanlah sistem yang tertutup sebagaimana pandangan kaum orthodox. Karena hal tersebut malah akan mencoreng citra Islam sebagai agama yang universal “rahmatan lil ‘alamin”. Islam adalah keimanan dimana Tuhan menyediakan manusia sesuatu yang baru, pada tiap paginya, “sarapan” yang bisa menjadi problem solving bagi berbagai permasalah-permasalahan baru yang muncul saat itu.<br />
Sebagaimana yang telah tertera dalam al-quran, setiap masa memiliki kemuliaanya. Dan pada akhirnya, Islam telah menghubungkan dirinya kepada keagungan Tuhan dan diakhir yang lain kepada diversity of humankind (keberagaman manusia). Disini, pluralisme adalah merupakan kekuatan dinamisnya. Wallahu a’lam. For our next scientists; where are thou!(albi)</div>
<p><span class="post-author vcard"> Diposting oleh <span class="fn">Hamdan Maghribi. (Sumber http://albi4ever.blogspot.com/2007/05/islam-dan-matematika.html)<br />
</span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/muchyidin.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/muchyidin.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muchyidin.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muchyidin.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muchyidin.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muchyidin.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muchyidin.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muchyidin.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muchyidin.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muchyidin.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muchyidin.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muchyidin.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muchyidin.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muchyidin.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muchyidin.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muchyidin.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muchyidin.wordpress.com&amp;blog=4024774&amp;post=17&amp;subd=muchyidin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muchyidin.wordpress.com/2008/06/21/islam-dan-matematika/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">muchyidin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Usal usul Kemlaka&#8230;</title>
		<link>http://muchyidin.wordpress.com/2008/06/20/usal-usul-kemlaka/</link>
		<comments>http://muchyidin.wordpress.com/2008/06/20/usal-usul-kemlaka/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Jun 2008 08:45:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>muchyidin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tahukah Anda ?]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muchyidin.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Kemlaka, sebuah desa kecil diperbatasan kab &#38; kota cirebon. Dikalangan tukang angkot tak terlalu terkenal memang. Namun dari manakah asal mula kata &#8220;kemlaka&#8221; di ambil ? Konon, Kemlaka merupakan sejenis tumbuhan. dengan nama ilmiah Phyllanthus emblica Linn. = Emblica officinalis Gaertn. Tanaman ini hidup liar di hutan, di ladang-ladang dan tempat lainnya yang memiliki hawa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muchyidin.wordpress.com&amp;blog=4024774&amp;post=8&amp;subd=muchyidin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span>Kemlaka, sebuah desa kecil diperbatasan kab &amp; kota cirebon. Dikalangan tukang angkot tak terlalu terkenal memang. Namun dari manakah asal mula kata &#8220;kemlaka&#8221; di ambil ?</span></p>
<p><span id="more-8"></span><span>Konon, Kemlaka merupakan sejenis tumbuhan. dengan nama ilmiah<em> </em></span><em><span>Phyllanthus emblica Linn. = Emblica officinalis Gaertn. </span></em><span>Tanaman ini hidup liar di hutan, di ladang-ladang dan tempat lainnya yang memiliki hawa panas. Tumbuhan ini pertumbuhannya sangat lambat. Tinggi tanaman sekitar 16 m. Daunnya memiliki sirip genap dan banyak mengandung zat samak. Buah rasanya sepat, asam-asam pahit, berbentuk bulat kecil seperti kelereng.Buahnya mengandung zat samak dan Vitamin C. Sedangkan kulitnya mengandung zat warna yang bisa digunakan untuk membiru kain. </span></p>
<p><strong><span>Kegunaan :</span></strong><span><br />
1. Bernanah (buahnya)<br />
2. Disentri<br />
3. Sariawan<br />
4. Gusi berdarah</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/muchyidin.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/muchyidin.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muchyidin.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muchyidin.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muchyidin.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muchyidin.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muchyidin.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muchyidin.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muchyidin.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muchyidin.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muchyidin.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muchyidin.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muchyidin.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muchyidin.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muchyidin.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muchyidin.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muchyidin.wordpress.com&amp;blog=4024774&amp;post=8&amp;subd=muchyidin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muchyidin.wordpress.com/2008/06/20/usal-usul-kemlaka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">muchyidin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nol, Pengisi Kekosongan yang Membingungkan.</title>
		<link>http://muchyidin.wordpress.com/2008/06/20/nol-pengisi-kekosongan-yang-membingungkan/</link>
		<comments>http://muchyidin.wordpress.com/2008/06/20/nol-pengisi-kekosongan-yang-membingungkan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Jun 2008 08:11:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>muchyidin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muchyidin.wordpress.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Kenapa bukan 1, atau 2, atau 3. Atau angla 7 yang dianggap keramat oleh sebagian kelompok agama dan budaya di dunia. Kenapa justru angka nol yang masih misterius hingga kini dan memusingkan kepala ahli matematika dunia. Orang pernah ribut soal kapan manusia memasuki Milenium Ketiga dengan resiko milenium bugnya. Gara-gara angka nol, ahli hitung bersilat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muchyidin.wordpress.com&amp;blog=4024774&amp;post=6&amp;subd=muchyidin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">
<p><span style="font-size:10pt;">Kenapa bukan 1, atau 2, atau 3. Atau angla 7 yang dianggap keramat oleh sebagian kelompok agama dan budaya di dunia. </span><span style="font-size:10pt;" lang="FI">Kenapa justru angka nol yang masih misterius hingga kini dan memusingkan kepala ahli matematika dunia. Orang pernah ribut soal kapan manusia memasuki Milenium Ketiga dengan resiko milenium <em>bug</em>nya. Gara-gara angka nol, ahli hitung bersilat lidah tenteng permulaan tahun Masehi.</span></p>
<p><span id="more-6"></span>Jika berpijak pada skala bilangan 0 sampai 9, milenium ketiga jatuh pada hari pertama tahun 2000. Tetapi bila skala bilangan dimulai dari 1 sampai 10, abad baru itu dibuka pada tanggal 1 Januari 2001. Angka 0 dianggap mempunyai nilai yang pasti sehingga 1+0=1. Tapi ada yang menganggap 0 identik dengan tak berhingga (~), karena memiliki nilai yang tidak pasti. Coba saja kalikan sebuah bilangan dengan nol. Mengapa hasilnya menjadi tidak ada alias nol? Komputer canggih sekalipun akan <em>berasap</em> jika menghitung sebuah bilangan dibagi nol.</p>
<p>Kebingungan itu berhulu dari apakah nol termasuk sebuahnperlambang angka atau bilangan yang turut serta dalam operasi perhitungan?(jawabnya turut serta dalam operasi perhitungan-MATKITA.com). Bila menilik sejarah tak ada yang tahu dengan pasti kapan simbol <em>ketiadaan</em> ini pertama kali muncul. Ratusan tahun yang lampau manusia hanya mengenal 9 lambang bilangan, yakni 1,2,3,4,5,6,7,8 dan 9. Kemudian datang sang pembuat kontrversi, angka 0.</p>
<p>Ada yang mengatakan nol memulai kisah sejarahnya dari Mesir. Lain pihak menyatakan angka ini pertama kali mucul lewat sejarah Babylonia, wilayah Irak sekarang, dan menyebar ke Jazirah Arab serta India. Pertama kali ia hanya dijadikan lambang pelengkap dari deretan bilangan: nol sebagai angka 0 dan sebagai tanda pengisi tempat kosong dalam sistem bilangan. Bedakan antara 2106 dan 216.</p>
<p>Semula angka masih berupa angan yang abstrak, yang konsepnya jauh dari konkrit. Orang menyebut gucangan mental ketika menemukan lima kuda menjadi 5 kuda begitu dibubuhkan diatas kertas. Bangsa Babylonia yang menorehkan itu pertama kali, selama lebih 1.000 tahun tak peduli dengan keambiguan nol. Orang-orang Kish, nama tempat di Selatan Irak sekarang, sekitar 700 tahun sebelum Masehi menggunakan tanda tiga pengait untuk mengisi tempat kosong diantara posisi angka. Di belahan dunia lain, bangsa Yunani kuno memakai penanda tempat kosong dalam deret bilangan. Dipelopori oleh Ptolemius, ahli algoritma, merasa memperkenalkan nol dengan bentuk 0 seperti sekarang ini pada 130 Masehi.</p>
<p>Meski baru menggunakan lambang 0 untuk menandai nol pada 876 Masehi, Aryabhata, matematikawan India, telah memasukkan nol dalam sistem perhitungan bukan sekedar tempat kosong. Lewat tiga serangkai Brahmagupta, Mahavira dan Bhaskara lahirlah operasi aritmatika yang mengikutsertakan nol. Mereka menghasilkan risalah yang merupakan karya hebat masa itu: nol ditambah dengan bilangan negatif hasilnya bilangan negatif dan bilangan positif ditambah nol hasilnya positif. <span style="font-size:10pt;">Nol dikurangi bilangan negatif hasilnya positif, nol dikurangi positif hasilnya negatif dan nol ditambah nol hasilnya nol. Begitu pula hasil perkalian dan pembagian dengan nol, yang hasilnya sama dengan yang dikenal sekarang.</span></p>
<p>Kerja brilian matematikawan India ini berembus ka Barat, tepatnya Jazirah Arab. Dan ke Timur, tepatnya di Cina. Di Irak orang menyebut Ibnu Ezra yang hidup pada abad 12 Masehi, di Cina Chu Shih Chieh yang hidup pada abad 13 dan Fibonacci pada abad ke 12 di Italia, yang memperkenalkan dan mengembangkan penggunaan nol sebagai tanda dan perhitungan. Patut dicatat sumbangan suku maya yang mendiami selatan Meksiko pada 665 Masehi yang mengawali angka nol lewat satuan nilai berbasis 20. <span style="font-size:10pt;" lang="FI">Pada 1600 penggunaan nol telah meluas di dunia.</span></p>
<p>Hingga kini nol masih berselaput misteri. Nol berguna untuk membedakan 5,50,500. Nol nyata sebagai angka, tapi perdebatan tak jua usai saat 5 dibagi 0. Ajukan pertanyaan ini dan anda menemukan kernyitan dahi.</p>
<p style="text-align:right;" align="right"><span style="font-size:10pt;" lang="FI">Ditulis oleh :Yura Syahrul</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/muchyidin.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/muchyidin.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muchyidin.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muchyidin.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muchyidin.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muchyidin.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muchyidin.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muchyidin.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muchyidin.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muchyidin.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muchyidin.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muchyidin.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muchyidin.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muchyidin.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muchyidin.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muchyidin.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muchyidin.wordpress.com&amp;blog=4024774&amp;post=6&amp;subd=muchyidin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muchyidin.wordpress.com/2008/06/20/nol-pengisi-kekosongan-yang-membingungkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">muchyidin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Dr Hadi Susanto van Nottingham</title>
		<link>http://muchyidin.wordpress.com/2008/06/20/kisah-dr-hadi-susanto-van-nottingham/</link>
		<comments>http://muchyidin.wordpress.com/2008/06/20/kisah-dr-hadi-susanto-van-nottingham/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Jun 2008 06:28:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>muchyidin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muchyidin.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[ali tainan Mon May 19, 2008 5:46 pm (PDT) Koran Tempo Minggu, 18 Mei 2008 Tamu Hadi Susanto Kebangkitan Nasional Harus Dilakukan Setiap Hari Tak banyak yang mengenal nama ini: Hadi Susanto. Ia tak beredar di Tanah Air sejak awal milenium baru, hampir sepertiga dari umurnya yang baru 29 tahun. Apalagi untuk mendengar reputasinya sebagai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muchyidin.wordpress.com&amp;blog=4024774&amp;post=3&amp;subd=muchyidin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>ali<br />
tainan</p>
<p>Mon May 19, 2008 5:46 pm (PDT)<br />
Koran Tempo</p>
<p>Minggu, 18 Mei 2008<br />
Tamu Hadi Susanto<br />
Kebangkitan Nasional Harus Dilakukan Setiap Hari</p>
<p>Tak banyak yang mengenal nama ini: Hadi Susanto. Ia tak beredar<br />
di Tanah Air sejak awal milenium baru, hampir sepertiga dari<br />
umurnya yang baru 29 tahun. Apalagi untuk mendengar reputasinya<br />
sebagai salah seorang matematikawan muda yang sedang memahat nama<br />
di jajaran legenda pakar matematika dunia.</p>
<p><span id="more-3"></span>Bahkan para pembaca novel superlaris Ayat-ayat Cinta karya<br />
Habiburrahman El-Shirazy pun tak akan menduga bahwa Hadi Susanto<br />
yang menulis kata pengantar menarik di novel itu adalah Hadi yang<br />
di umur 27 tahun meraih gelar doktor matematika dari Universiteit<br />
Twente, Belanda, dan kini mengajar di Nottingham, Inggris.</p>
<p>Lahir di sebuah desa kecil di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur,<br />
Hadi mencecap pendidikan di SDN Kunir Lor 1, SMPN Kunir, dan SMAN<br />
2 Lumajang. Saat di bangku SD, ia selalu terpilih sebagai wakil<br />
sekolah dalam lomba cerdas cermat di tingkat kabupaten. Anehnya,<br />
begitu bertanding nilainya hampir selalu nol. &#8220;Saya selalu grogi<br />
melihat anak dari sekolah lain yang selalu tampak keren dan<br />
bergaya,&#8221; katanya.</p>
<p>Kini dunia berbalik. Banyak yang &#8220;grogi&#8221; melihat prestasi<br />
mahasiswa terbaik ITB tahun 2000 yang juga aktif berkiprah di<br />
dunia sastra itu. &#8220;It is impossible to be a mathematician without<br />
being a poet in soul,&#8221; ungkapnya mengutip Sofia Vasilyevna<br />
Kovalevskaya (1850-1891), matematikawan- cum-penyair Rusia perumus<br />
teorema Cauchy-Kovalevsky.</p>
<p>Saat dikontak harian ini sebagai calon &#8220;Tamu&#8221;<br />
berkaitan dengan Hari Kebangkitan Nasional, pada awalnya Hadi<br />
menolak. &#8220;Saya membaca wawancara Koran Tempo dengan Pak Anies<br />
Baswedan (Rektor Universitas Paramadina&#8211; Red.) lewat kiriman<br />
e-mail seorang teman. Saya tak sebanding dengan Pak Anies untuk<br />
menjadi &#8216;Tamu&#8217;,&#8221; katanya dengan suara lembut di<br />
ujung saluran telepon internasional.</p>
<p>Akhirnya, Kamis lalu, calon ayah yang sedang menunggu kelahiran<br />
anak pertamanya pada Juli depan ini bersedia juga diwawancarai<br />
wartawan Tempo Akmal Nasery Basral setelah berkorespondensi lewat<br />
surat elektronik dalam beberapa kesempatan sebelumnya.</p>
<p>Mengapa menurut matematikawan muda yang 26 karya ilmiahnya sudah<br />
muncul di sejumlah jurnal internasional itu kebangkitan nasional<br />
tak akan terjadi jika hanya muncul dari perayaan yang timbul<br />
setahun sekali? Petikannya:</p>
<p>Anda menyelesaikan kuliah dalam tiga tahun dan terpilih sebagai<br />
Mahasiswa Terbaik ITB tahun 2000. Bagaimana ceritanya?</p>
<p>Sebetulnya masa kuliah saya hampir empat tahun. Yang kuliah saja<br />
memang tiga tahun, tapi memasuki tahun keempat saya mendapat<br />
kesempatan mengunjungi Belanda selama delapan bulan untuk<br />
mengerjakan TA (tugas akhir&#8211;Red.) di Universiteit Twente (UT).<br />
Begitu diwisuda, saya diumumkan terpilih sebagai penerima Ganesha<br />
Prize, Mahasiswa Berprestasi Utama ITB, dengan hadiah mengunjungi<br />
Belanda lagi selama tiga bulan. Oleh UT saya ditawari melanjutkan<br />
kuliah di sana. Maka mulai Agustus 2001 saya mengambil program<br />
kombinasi MSc/PhD untuk periode empat tahun.</p>
<p>Tapi, selesai PhD Anda tidak kembali ke Indonesia. Mengapa?<br />
Selesai dari Twente saya melanjutkan studi postdoctoral di<br />
Massachusetts, Amerika Serikat. Saya mendapat visiting assistant<br />
professorship selama tiga tahun di University of Massachusetts<br />
(UMass), Amherst. Kewajiban saya mengajar dua kelas per semester<br />
selain tugas melakukan riset. Menjelang selesai di UMass, saya<br />
kirimkan sejumlah aplikasi ke universitas di Amerika Serikat dan<br />
Eropa. Akhirnya, sejak Januari 2008 saya menjadi dosen di<br />
University of Nottingham, Inggris. Mengapa saya tidak segera<br />
kembali ke Indonesia, karena saya ingin memperdalam dulu bidang<br />
ini. Apalagi sekarang istri saya sudah di sini. Juli mendatang,<br />
insya Allah, anak pertama kami lahir.</p>
<p>Anda terlihat begitu mudah meniti karier. Berpindah-pindah dari<br />
Belanda, Amerika Serikat, Inggris, sebagai doktor matematika,<br />
padahal usia Anda belum lagi 30 tahun. Apakah semua ini memang<br />
semudah yang terlihat?<br />
Tidak. Dua tahun pertama saya kuliah di ITB, kondisi saya sulit<br />
sekali. Saya tak bisa hidup hanya dari beasiswa, harus kerja<br />
juga. Uang kerja dan beasiswa yang saya dapatkan dibagi tiga:<br />
untuk kebutuhan saya di Bandung, keperluan orang tua di Lumajang,<br />
dan biaya kuliah adik. Tiap Sabtu-Minggu saya keliling hotel dan<br />
gedung resepsi di Bandung bermodal pakaian rapi. Tanpa tahu siapa<br />
yang punya hajat, saya masuk saja ke pesta orang-orang kaya, yang<br />
penting bisa makan. Pernah juga setelah libur Lebaran, ketika<br />
kembali ke Bandung saya tak punya cukup uang untuk membeli karcis<br />
kereta ekonomi. Akhirnya, saya naik kereta barang, duduk di<br />
lantai gerbong bersama sekitar 100-an orang. Perjalanan sekitar<br />
12 jam itu berlangsung malam hari dan tanpa lampu di gerbong<br />
saya. Gelap sekali. Mungkin kalau dituliskan bisa jadi Laskar<br />
Pelangi (judul novel karya Andrea Hirata&#8211;Red. ) versi orang Jawa<br />
(tertawa kecil). Itu beberapa contoh besar. Kalau penderitaan<br />
lainnya banyak sekali.</p>
<p>Bagaimana Anda melewati masa-masa sulit itu untuk bersinar di<br />
ITB?<br />
Berkat dukungan dan doa banyak orang. Ketika dosen kuliah agama<br />
Islam saya, Ustad Asep Zaenal Ausof, akan berangkat umrah, saya<br />
datangi dia dan minta didoakan khusus. Saat itu kehidupan saya<br />
sedang di bawah sekali. Usaha orang tua saya yang berjualan kain<br />
dan baju di pasar bangkrut total. Kami terjebak rentenir sehingga<br />
harus jual sawah, dan akhirnya satu-satunya rumah yang kami punya<br />
persis menjelang saya lulus SMA. Begitu lulus SMA, saya sudah<br />
memutuskan untuk tidak kuliah, tapi keluarga saya, terutama ibu,<br />
tidak setuju. Saya harus terus kuliah. Alhamdulillah, saya lulus<br />
UMPTN dan diterima di ITB, tapi untuk membayar uang masuk yang<br />
beberapa ratus ribu saja kami tak mampu. Akhirnya, saya putuskan<br />
lagi untuk tidak mendaftar. Tapi ibu saya berjuang terus sampai<br />
detik terakhir. Akhirnya ketika saya bisa berangkat ke Bandung,<br />
dalam hati saya cuma ada satu tekad untuk berhasil dan<br />
membahagiakan keluarga.</p>
<p>Apa yang menyebabkan Anda begitu tertarik untuk mendalami<br />
matematika?<br />
Sejak SD saya suka mengamati bagaimana angka-angka bisa dimainkan<br />
dengan operasi-operasi yang saling berhubungan. Di SMP saya mulai<br />
menyadari bahwa dasar dari fenomena alam di sekitar kita bisa<br />
dirumuskan melalui matematika. Ketika sesuatu sudah dituliskan ke<br />
dalam persamaan dan rumus, sesuatu itu menjadi berada di tangan<br />
kita yang bisa kita main-mainkan. Tapi pencerahan saya yang<br />
sebenarnya terjadi di ITB ketika mengikuti ceramah agama yang<br />
disampaikan dosen astronomi Pak Mudji Raharto. Beliau salah<br />
seorang astronom yang sampai saat ini selalu menjadi rujukan<br />
dalam penentuan awal dan akhir bulan Ramadan. Ada satu bagian<br />
dari ceramahnya yang membuat saya terpana, bahwa alam semesta ini<br />
juga bisa dirumuskan dalam formulasi matematika. Saat itu saya<br />
berkata dalam hati, &#8220;Tuhan pasti ahli matematika!&#8221; Sejak itu pula<br />
saya melihat dunia ini seperti tersusun dari angka-angka. Mungkin<br />
seperti film The Matrix.</p>
<p>Tetapi mengapa bagi sebagian besar siswa Indonesia, matematika<br />
jauh dari pengalaman yang menyenangkan seperti yang Anda alami?<br />
Matematika menjadi sesuatu yang menakutkan bagi mayoritas siswa<br />
Indonesia karena pesan dari matematika itu sering tidak sampai.<br />
Jika kita belajar matematika sebagai sebuah hafalan, maka<br />
matematika menjadi tidak seksi lagi. Mempelajarinya menjadi<br />
sesuatu yang memberatkan. Tapi jika kita tahu bahwa yang<br />
dipelajari itu adalah, dan tidak lebih dari,<br />
&#8220;perumuman&#8221; dari masalah sehari-hari yang sudah<br />
kita kenal, maka matematika akan menjadi sangat menyenangkan. Di<br />
Indonesia ada beberapa matematikawan yang menguasai betul<br />
bagaimana membuat matematika menjadi menarik, misalnya almarhum<br />
Profesor Andi Hakim Nasution yang dulu rutin mengisi kolom di<br />
harian Republika dan almarhum Profesor Ahmad Arifin dari ITB.</p>
<p>Anda dikenal juga punya minat yang besar dalam sastra, misalnya<br />
dengan menulis kata pengantar novel Ayat-ayat Cinta karya<br />
Habiburrahman El-Shirazy yang kini merupakan film terlaris di<br />
Tanah Air dari jumlah penonton. Puisi-puisi Anda muncul di banyak<br />
antologi bersama. Bagaimana relasi antara matematika dan sastra<br />
ini berkelindan dalam kehidupan Anda?<br />
Sebetulnya saya kenal Ustad Abik (nama panggilan Habiburrahman<br />
El-Shirazy&#8211; Red.) lewat internet. Saya waktu itu di Belanda,<br />
beliau di Mesir. Kami bertemu di pesantrenvirtual. com. Dari situ<br />
sering berdiskusi sastra. Menurut saya hubungan matematika dengan<br />
sastra sangat dekat. Untuk bisa menikmati keindahan matematika<br />
tidak hanya diperlukan logika, tapi juga perasaan, seperti halnya<br />
seni. Einstein mengatakan, &#8220;Pure mathematics is, in its way, the<br />
poetry of logical ideas.&#8221;</p>
<p>Jadi seorang matematikawan pada dasarnya seorang penyair?<br />
Kurang lebih. Dan itu bukan cuma pendapat Einstein. Sofia<br />
Kovalevskaya, wanita pertama yang mendapat pendidikan formal PhD<br />
di Eropa yang terkenal dengan teorema Cauchy-Kovalevsky, juga<br />
seorang penyair. Dia bilang, &#8220;It is impossible to be a<br />
mathematician without being a poet in soul.&#8221; Karl Weierstrass,<br />
peletak dasar analisis matematika modern yang juga mentor Sofia,<br />
membenarkan ungkapan muridnya dan menambahkan, &#8220;It is true that a<br />
mathematician who is not also something of a poet will never be a<br />
perfect mathematician. &#8221; Kalau kita percaya dengan ucapan<br />
Weierstrass ini, maka saya paling tidak penggemar sastra, karena<br />
belum bisa disebut sastrawan (tertawa).</p>
<p>Contoh-contoh yang Anda sebut itu dalam konteks apresiasi, bukan?<br />
Bagaimana dalam konteks kreasi atau penciptaan karya sastra?<br />
Saya kira contohnya juga banyak. Bahkan Hadiah Nobel di bidang<br />
sastra pun ada matematikawan yang memenangkannya. Pada 1904,<br />
Hadiah Nobel untuk sastra diberikan kepada dramawan dan<br />
matematikawan Spanyol Jos�Echegara y. Pada 1950, Nobel Sastra<br />
juga diberikan kepada seorang matematikawan, Bertrand Russell.<br />
Dua orang ini disebut matematikawan karena mereka memang profesor<br />
matematika. Saya mendengar rumor bahwa pada 1999 seorang<br />
matematikawan, associate professor di University of New Mexico,<br />
Gallup, juga sempat dinominasikan sebagai kandidat penerima<br />
Hadiah Nobel sastra.</p>
<p>Apakah relasi yang akrab antara matematika dan sastra itu juga<br />
terlihat di dunia Islam?<br />
Ada, misalnya Omar Khayyam yang terkenal dengan Rubaiyyat-nya<br />
itu. Selain sebagai penyair, Omar Khayyam juga terkenal sebagai<br />
ahli matematika geometri yang mengoreksi postulat Euklid. Dan<br />
saya kira tema-tema seperti ini harus sering diperbincangkan.</p>
<p>Mengapa?<br />
Saya lihat dunia anak muda di Indonesia terlalu banyak dijejali<br />
dengan tayangan infotainment, seakan-akan menjadi artis adalah<br />
satu-satunya jalan yang harus ditempuh agar bisa sukses dan<br />
terkenal. Ditambah dengan program-program pencari bakat yang<br />
menawarkan ketenaran instan yang tanpa disadari sering kali<br />
menipu. Padahal dunia sains juga menawarkan gaya selebritasnya<br />
sendiri, misalnya setelah buku Sylvia Nasar A Beautiful Mind<br />
terbit, publik jadi mengidolakan matematikawan John Nash Jr. (A<br />
Beautiful Mind sudah difilmkan dengan judul sama, dibintangi oleh<br />
aktor Russell Crowe sebagai John Nash Jr.&#8211;Red.) Bahan-bahan<br />
seperti ini cukup banyak. Saya sendiri terinspirasi untuk menulis<br />
polemik antara Sylvia Nasar dan Prof. Shing-Tung Yau, salah<br />
seorang jenius matematika saat ini yang juga aktif menulis<br />
puisi-puisi Cina. Konflik mereka sangat menarik di dunia<br />
matematika, tak kalah hebohnya dengan kisruh Maia-Dhani di<br />
televisi Indonesia (tertawa).</p>
<p>Seperti apa sih kalau selebritas matematika berseteru?<br />
Konflik mereka dimulai ketika Nasar menulis artikel di The New<br />
Yorker yang menuduh Shing-Tung Yau hendak mencuri kredit atas<br />
usaha Grigori Perelman yang berhasil memecahkan satu dari<br />
Millennium Prize Problems, yang untuk satu solusi dari<br />
masing-masing problem berhadiah satu juta dolar. Dari sini cerita<br />
yang menggemparkan dunia permatematikaan internasional ini<br />
bergulir. Kisah ini, menurut saya, menarik untuk dibaca anak-anak<br />
muda di Indonesia, selain buku-buku matematika populer yang<br />
ditulis oleh mendiang Prof. Hans Wospakrik. Intinya agar generasi<br />
muda kita tahu bahwa pengertian idola dan selebritas itu bukan<br />
hanya dari kalangan artis.</p>
<p>Jadi, Anda mengharapkan ada semacam kebangkitan nasional, dari<br />
generasi muda khususnya, dalam memaknai masa depan?<br />
Ketika kuliah di Bandung, saya melihat kebangkitan nasional itu<br />
hanya motto belaka bagi kawan-kawan yang berasal dari kalangan<br />
berada. Dan tidak mungkin perubahan besar yang diharapkan dari<br />
kebangkitan nasional itu akan muncul jika hanya dihasilkan oleh<br />
kesadaran yang muncul setahun sekali. Menurut saya, kebangkitan<br />
nasional harus dilakukan setiap hari, yaitu bangkit untuk bisa<br />
bermanfaat bagi orang banyak, minimal orang-orang yang bisa saya<br />
jangkau dengan kedua tangan saya, dengan membuat mereka<br />
bermanfaat pula bagi orang-orang di sekitar mereka. Dengan saling<br />
menularkan kebangkitan seperti ini, saya kira, arti kebangkitan<br />
nasional itu baru menemukan maknanya.</p>
<p>Bagaimana Anda melihat perkembangan dunia matematika di Indonesia<br />
sekarang?<br />
Profesor Achmad Arifin pernah bilang, &#8220;Matematikawan, khususnya<br />
aljabar, Indonesia masih berada pada taraf memahami pekerjaan<br />
orang lain, belum pada tahap mengembangkan. &#8221; Saya kira pendapat<br />
ini benar. Lihatlah bagaimana guru besar yang seharusnya menjadi<br />
ujung tombak dan tolok ukur kualitas penelitian justru sering<br />
kali minim kontribusinya di jurnal-jurnal internasional. Namun,<br />
sebagai orang yang sejak lulus S1 sampai saat ini belum pernah<br />
tinggal di Indonesia, saya merasa tidak punya hak lebih untuk<br />
memberikan saran. Mesti begitu, saya tahu pasti ada banyak dosen<br />
dan periset di Indonesia yang terus memegang idealismenya. Mereka<br />
orang-orang yang sangat militan di tengah segala keterbatasan<br />
dalam melakukan penelitian. Pemerintah dan media massa harus<br />
membantu mereka.</p>
<p>Ada kisah-kisah yang lucu sebagai dosen matematika di luar<br />
negeri?<br />
Aksen bahasa Inggris di Nottingham ini kan berbeda dengan di<br />
Massachusetts, jadi saya harus beradaptasi lagi ketika mengajar.<br />
Nah, kadang-kadang begitu ada mahasiswa saya yang bertanya, saya<br />
masih belum menangkap inti pertanyaannya, jadi saya bilang, &#8220;Coba<br />
ulangi lagi?&#8221; Eh, mereka bilang nggak jadi. Mungkin mereka pikir<br />
dosennya ini ngetes apakah mereka yakin dengan pertanyaan sendiri<br />
atau tidak (tertawa).</p>
<p>* * *</p>
<p>Nama: Hadi Susanto<br />
Tanggal lahir: Lumajang, 27 Januari 1979<br />
Istri: dr. Nurismawati Maghfira</p>
<p>Pekerjaan:Dosen matematika di University of Nottingham, Inggris</p>
<p>Pendidikan:</p>
<p>* MSc dan PhD dari Universiteit Twente, Belanda</p>
<p>* Sarjana Matematika ITB, Bandung</p>
<p>Penghargaan:<br />
Ganesha Prize (Mahasiswa Terbaik ITB) 2000</p>
<p>Karya Sastra:<br />
Puisi</p>
<p>* Graffiti Gratitude (YMS/Angkasa Bandung, 2001)</p>
<p>* Les Cyberletters: antologi puisi cyberpunk (YMS, 2005)</p>
<p>* Dian Sastro for President #3 (On/Off Book &amp; Insist Press,<br />
2005)</p>
<p>Cerpen</p>
<p>* Merah di Jenin (FBA Press, 2002)</p>
<p>* Jika Cinta (Senayan Abadi, 2004)</p>
<p>* Dari Negeri Asing (Syaamil, 2001)</p>
<p>* Graffiti Imaji (YMS, 2002)</p>
<p>&#8211;<br />
- Dedi -</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/muchyidin.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/muchyidin.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muchyidin.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muchyidin.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muchyidin.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muchyidin.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muchyidin.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muchyidin.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muchyidin.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muchyidin.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muchyidin.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muchyidin.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muchyidin.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muchyidin.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muchyidin.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muchyidin.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muchyidin.wordpress.com&amp;blog=4024774&amp;post=3&amp;subd=muchyidin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muchyidin.wordpress.com/2008/06/20/kisah-dr-hadi-susanto-van-nottingham/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">muchyidin</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
