Arif Muchyidin

Mathematics 4 our life…

Kisah Dr Hadi Susanto van Nottingham

ali
tainan

Mon May 19, 2008 5:46 pm (PDT)
Koran Tempo

Minggu, 18 Mei 2008
Tamu Hadi Susanto
Kebangkitan Nasional Harus Dilakukan Setiap Hari

Tak banyak yang mengenal nama ini: Hadi Susanto. Ia tak beredar
di Tanah Air sejak awal milenium baru, hampir sepertiga dari
umurnya yang baru 29 tahun. Apalagi untuk mendengar reputasinya
sebagai salah seorang matematikawan muda yang sedang memahat nama
di jajaran legenda pakar matematika dunia.

Bahkan para pembaca novel superlaris Ayat-ayat Cinta karya
Habiburrahman El-Shirazy pun tak akan menduga bahwa Hadi Susanto
yang menulis kata pengantar menarik di novel itu adalah Hadi yang
di umur 27 tahun meraih gelar doktor matematika dari Universiteit
Twente, Belanda, dan kini mengajar di Nottingham, Inggris.

Lahir di sebuah desa kecil di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur,
Hadi mencecap pendidikan di SDN Kunir Lor 1, SMPN Kunir, dan SMAN
2 Lumajang. Saat di bangku SD, ia selalu terpilih sebagai wakil
sekolah dalam lomba cerdas cermat di tingkat kabupaten. Anehnya,
begitu bertanding nilainya hampir selalu nol. “Saya selalu grogi
melihat anak dari sekolah lain yang selalu tampak keren dan
bergaya,” katanya.

Kini dunia berbalik. Banyak yang “grogi” melihat prestasi
mahasiswa terbaik ITB tahun 2000 yang juga aktif berkiprah di
dunia sastra itu. “It is impossible to be a mathematician without
being a poet in soul,” ungkapnya mengutip Sofia Vasilyevna
Kovalevskaya (1850-1891), matematikawan- cum-penyair Rusia perumus
teorema Cauchy-Kovalevsky.

Saat dikontak harian ini sebagai calon “Tamu”
berkaitan dengan Hari Kebangkitan Nasional, pada awalnya Hadi
menolak. “Saya membaca wawancara Koran Tempo dengan Pak Anies
Baswedan (Rektor Universitas Paramadina– Red.) lewat kiriman
e-mail seorang teman. Saya tak sebanding dengan Pak Anies untuk
menjadi ‘Tamu’,” katanya dengan suara lembut di
ujung saluran telepon internasional.

Akhirnya, Kamis lalu, calon ayah yang sedang menunggu kelahiran
anak pertamanya pada Juli depan ini bersedia juga diwawancarai
wartawan Tempo Akmal Nasery Basral setelah berkorespondensi lewat
surat elektronik dalam beberapa kesempatan sebelumnya.

Mengapa menurut matematikawan muda yang 26 karya ilmiahnya sudah
muncul di sejumlah jurnal internasional itu kebangkitan nasional
tak akan terjadi jika hanya muncul dari perayaan yang timbul
setahun sekali? Petikannya:

Anda menyelesaikan kuliah dalam tiga tahun dan terpilih sebagai
Mahasiswa Terbaik ITB tahun 2000. Bagaimana ceritanya?

Sebetulnya masa kuliah saya hampir empat tahun. Yang kuliah saja
memang tiga tahun, tapi memasuki tahun keempat saya mendapat
kesempatan mengunjungi Belanda selama delapan bulan untuk
mengerjakan TA (tugas akhir–Red.) di Universiteit Twente (UT).
Begitu diwisuda, saya diumumkan terpilih sebagai penerima Ganesha
Prize, Mahasiswa Berprestasi Utama ITB, dengan hadiah mengunjungi
Belanda lagi selama tiga bulan. Oleh UT saya ditawari melanjutkan
kuliah di sana. Maka mulai Agustus 2001 saya mengambil program
kombinasi MSc/PhD untuk periode empat tahun.

Tapi, selesai PhD Anda tidak kembali ke Indonesia. Mengapa?
Selesai dari Twente saya melanjutkan studi postdoctoral di
Massachusetts, Amerika Serikat. Saya mendapat visiting assistant
professorship selama tiga tahun di University of Massachusetts
(UMass), Amherst. Kewajiban saya mengajar dua kelas per semester
selain tugas melakukan riset. Menjelang selesai di UMass, saya
kirimkan sejumlah aplikasi ke universitas di Amerika Serikat dan
Eropa. Akhirnya, sejak Januari 2008 saya menjadi dosen di
University of Nottingham, Inggris. Mengapa saya tidak segera
kembali ke Indonesia, karena saya ingin memperdalam dulu bidang
ini. Apalagi sekarang istri saya sudah di sini. Juli mendatang,
insya Allah, anak pertama kami lahir.

Anda terlihat begitu mudah meniti karier. Berpindah-pindah dari
Belanda, Amerika Serikat, Inggris, sebagai doktor matematika,
padahal usia Anda belum lagi 30 tahun. Apakah semua ini memang
semudah yang terlihat?
Tidak. Dua tahun pertama saya kuliah di ITB, kondisi saya sulit
sekali. Saya tak bisa hidup hanya dari beasiswa, harus kerja
juga. Uang kerja dan beasiswa yang saya dapatkan dibagi tiga:
untuk kebutuhan saya di Bandung, keperluan orang tua di Lumajang,
dan biaya kuliah adik. Tiap Sabtu-Minggu saya keliling hotel dan
gedung resepsi di Bandung bermodal pakaian rapi. Tanpa tahu siapa
yang punya hajat, saya masuk saja ke pesta orang-orang kaya, yang
penting bisa makan. Pernah juga setelah libur Lebaran, ketika
kembali ke Bandung saya tak punya cukup uang untuk membeli karcis
kereta ekonomi. Akhirnya, saya naik kereta barang, duduk di
lantai gerbong bersama sekitar 100-an orang. Perjalanan sekitar
12 jam itu berlangsung malam hari dan tanpa lampu di gerbong
saya. Gelap sekali. Mungkin kalau dituliskan bisa jadi Laskar
Pelangi (judul novel karya Andrea Hirata–Red. ) versi orang Jawa
(tertawa kecil). Itu beberapa contoh besar. Kalau penderitaan
lainnya banyak sekali.

Bagaimana Anda melewati masa-masa sulit itu untuk bersinar di
ITB?
Berkat dukungan dan doa banyak orang. Ketika dosen kuliah agama
Islam saya, Ustad Asep Zaenal Ausof, akan berangkat umrah, saya
datangi dia dan minta didoakan khusus. Saat itu kehidupan saya
sedang di bawah sekali. Usaha orang tua saya yang berjualan kain
dan baju di pasar bangkrut total. Kami terjebak rentenir sehingga
harus jual sawah, dan akhirnya satu-satunya rumah yang kami punya
persis menjelang saya lulus SMA. Begitu lulus SMA, saya sudah
memutuskan untuk tidak kuliah, tapi keluarga saya, terutama ibu,
tidak setuju. Saya harus terus kuliah. Alhamdulillah, saya lulus
UMPTN dan diterima di ITB, tapi untuk membayar uang masuk yang
beberapa ratus ribu saja kami tak mampu. Akhirnya, saya putuskan
lagi untuk tidak mendaftar. Tapi ibu saya berjuang terus sampai
detik terakhir. Akhirnya ketika saya bisa berangkat ke Bandung,
dalam hati saya cuma ada satu tekad untuk berhasil dan
membahagiakan keluarga.

Apa yang menyebabkan Anda begitu tertarik untuk mendalami
matematika?
Sejak SD saya suka mengamati bagaimana angka-angka bisa dimainkan
dengan operasi-operasi yang saling berhubungan. Di SMP saya mulai
menyadari bahwa dasar dari fenomena alam di sekitar kita bisa
dirumuskan melalui matematika. Ketika sesuatu sudah dituliskan ke
dalam persamaan dan rumus, sesuatu itu menjadi berada di tangan
kita yang bisa kita main-mainkan. Tapi pencerahan saya yang
sebenarnya terjadi di ITB ketika mengikuti ceramah agama yang
disampaikan dosen astronomi Pak Mudji Raharto. Beliau salah
seorang astronom yang sampai saat ini selalu menjadi rujukan
dalam penentuan awal dan akhir bulan Ramadan. Ada satu bagian
dari ceramahnya yang membuat saya terpana, bahwa alam semesta ini
juga bisa dirumuskan dalam formulasi matematika. Saat itu saya
berkata dalam hati, “Tuhan pasti ahli matematika!” Sejak itu pula
saya melihat dunia ini seperti tersusun dari angka-angka. Mungkin
seperti film The Matrix.

Tetapi mengapa bagi sebagian besar siswa Indonesia, matematika
jauh dari pengalaman yang menyenangkan seperti yang Anda alami?
Matematika menjadi sesuatu yang menakutkan bagi mayoritas siswa
Indonesia karena pesan dari matematika itu sering tidak sampai.
Jika kita belajar matematika sebagai sebuah hafalan, maka
matematika menjadi tidak seksi lagi. Mempelajarinya menjadi
sesuatu yang memberatkan. Tapi jika kita tahu bahwa yang
dipelajari itu adalah, dan tidak lebih dari,
“perumuman” dari masalah sehari-hari yang sudah
kita kenal, maka matematika akan menjadi sangat menyenangkan. Di
Indonesia ada beberapa matematikawan yang menguasai betul
bagaimana membuat matematika menjadi menarik, misalnya almarhum
Profesor Andi Hakim Nasution yang dulu rutin mengisi kolom di
harian Republika dan almarhum Profesor Ahmad Arifin dari ITB.

Anda dikenal juga punya minat yang besar dalam sastra, misalnya
dengan menulis kata pengantar novel Ayat-ayat Cinta karya
Habiburrahman El-Shirazy yang kini merupakan film terlaris di
Tanah Air dari jumlah penonton. Puisi-puisi Anda muncul di banyak
antologi bersama. Bagaimana relasi antara matematika dan sastra
ini berkelindan dalam kehidupan Anda?
Sebetulnya saya kenal Ustad Abik (nama panggilan Habiburrahman
El-Shirazy– Red.) lewat internet. Saya waktu itu di Belanda,
beliau di Mesir. Kami bertemu di pesantrenvirtual. com. Dari situ
sering berdiskusi sastra. Menurut saya hubungan matematika dengan
sastra sangat dekat. Untuk bisa menikmati keindahan matematika
tidak hanya diperlukan logika, tapi juga perasaan, seperti halnya
seni. Einstein mengatakan, “Pure mathematics is, in its way, the
poetry of logical ideas.”

Jadi seorang matematikawan pada dasarnya seorang penyair?
Kurang lebih. Dan itu bukan cuma pendapat Einstein. Sofia
Kovalevskaya, wanita pertama yang mendapat pendidikan formal PhD
di Eropa yang terkenal dengan teorema Cauchy-Kovalevsky, juga
seorang penyair. Dia bilang, “It is impossible to be a
mathematician without being a poet in soul.” Karl Weierstrass,
peletak dasar analisis matematika modern yang juga mentor Sofia,
membenarkan ungkapan muridnya dan menambahkan, “It is true that a
mathematician who is not also something of a poet will never be a
perfect mathematician. ” Kalau kita percaya dengan ucapan
Weierstrass ini, maka saya paling tidak penggemar sastra, karena
belum bisa disebut sastrawan (tertawa).

Contoh-contoh yang Anda sebut itu dalam konteks apresiasi, bukan?
Bagaimana dalam konteks kreasi atau penciptaan karya sastra?
Saya kira contohnya juga banyak. Bahkan Hadiah Nobel di bidang
sastra pun ada matematikawan yang memenangkannya. Pada 1904,
Hadiah Nobel untuk sastra diberikan kepada dramawan dan
matematikawan Spanyol Jos�Echegara y. Pada 1950, Nobel Sastra
juga diberikan kepada seorang matematikawan, Bertrand Russell.
Dua orang ini disebut matematikawan karena mereka memang profesor
matematika. Saya mendengar rumor bahwa pada 1999 seorang
matematikawan, associate professor di University of New Mexico,
Gallup, juga sempat dinominasikan sebagai kandidat penerima
Hadiah Nobel sastra.

Apakah relasi yang akrab antara matematika dan sastra itu juga
terlihat di dunia Islam?
Ada, misalnya Omar Khayyam yang terkenal dengan Rubaiyyat-nya
itu. Selain sebagai penyair, Omar Khayyam juga terkenal sebagai
ahli matematika geometri yang mengoreksi postulat Euklid. Dan
saya kira tema-tema seperti ini harus sering diperbincangkan.

Mengapa?
Saya lihat dunia anak muda di Indonesia terlalu banyak dijejali
dengan tayangan infotainment, seakan-akan menjadi artis adalah
satu-satunya jalan yang harus ditempuh agar bisa sukses dan
terkenal. Ditambah dengan program-program pencari bakat yang
menawarkan ketenaran instan yang tanpa disadari sering kali
menipu. Padahal dunia sains juga menawarkan gaya selebritasnya
sendiri, misalnya setelah buku Sylvia Nasar A Beautiful Mind
terbit, publik jadi mengidolakan matematikawan John Nash Jr. (A
Beautiful Mind sudah difilmkan dengan judul sama, dibintangi oleh
aktor Russell Crowe sebagai John Nash Jr.–Red.) Bahan-bahan
seperti ini cukup banyak. Saya sendiri terinspirasi untuk menulis
polemik antara Sylvia Nasar dan Prof. Shing-Tung Yau, salah
seorang jenius matematika saat ini yang juga aktif menulis
puisi-puisi Cina. Konflik mereka sangat menarik di dunia
matematika, tak kalah hebohnya dengan kisruh Maia-Dhani di
televisi Indonesia (tertawa).

Seperti apa sih kalau selebritas matematika berseteru?
Konflik mereka dimulai ketika Nasar menulis artikel di The New
Yorker yang menuduh Shing-Tung Yau hendak mencuri kredit atas
usaha Grigori Perelman yang berhasil memecahkan satu dari
Millennium Prize Problems, yang untuk satu solusi dari
masing-masing problem berhadiah satu juta dolar. Dari sini cerita
yang menggemparkan dunia permatematikaan internasional ini
bergulir. Kisah ini, menurut saya, menarik untuk dibaca anak-anak
muda di Indonesia, selain buku-buku matematika populer yang
ditulis oleh mendiang Prof. Hans Wospakrik. Intinya agar generasi
muda kita tahu bahwa pengertian idola dan selebritas itu bukan
hanya dari kalangan artis.

Jadi, Anda mengharapkan ada semacam kebangkitan nasional, dari
generasi muda khususnya, dalam memaknai masa depan?
Ketika kuliah di Bandung, saya melihat kebangkitan nasional itu
hanya motto belaka bagi kawan-kawan yang berasal dari kalangan
berada. Dan tidak mungkin perubahan besar yang diharapkan dari
kebangkitan nasional itu akan muncul jika hanya dihasilkan oleh
kesadaran yang muncul setahun sekali. Menurut saya, kebangkitan
nasional harus dilakukan setiap hari, yaitu bangkit untuk bisa
bermanfaat bagi orang banyak, minimal orang-orang yang bisa saya
jangkau dengan kedua tangan saya, dengan membuat mereka
bermanfaat pula bagi orang-orang di sekitar mereka. Dengan saling
menularkan kebangkitan seperti ini, saya kira, arti kebangkitan
nasional itu baru menemukan maknanya.

Bagaimana Anda melihat perkembangan dunia matematika di Indonesia
sekarang?
Profesor Achmad Arifin pernah bilang, “Matematikawan, khususnya
aljabar, Indonesia masih berada pada taraf memahami pekerjaan
orang lain, belum pada tahap mengembangkan. ” Saya kira pendapat
ini benar. Lihatlah bagaimana guru besar yang seharusnya menjadi
ujung tombak dan tolok ukur kualitas penelitian justru sering
kali minim kontribusinya di jurnal-jurnal internasional. Namun,
sebagai orang yang sejak lulus S1 sampai saat ini belum pernah
tinggal di Indonesia, saya merasa tidak punya hak lebih untuk
memberikan saran. Mesti begitu, saya tahu pasti ada banyak dosen
dan periset di Indonesia yang terus memegang idealismenya. Mereka
orang-orang yang sangat militan di tengah segala keterbatasan
dalam melakukan penelitian. Pemerintah dan media massa harus
membantu mereka.

Ada kisah-kisah yang lucu sebagai dosen matematika di luar
negeri?
Aksen bahasa Inggris di Nottingham ini kan berbeda dengan di
Massachusetts, jadi saya harus beradaptasi lagi ketika mengajar.
Nah, kadang-kadang begitu ada mahasiswa saya yang bertanya, saya
masih belum menangkap inti pertanyaannya, jadi saya bilang, “Coba
ulangi lagi?” Eh, mereka bilang nggak jadi. Mungkin mereka pikir
dosennya ini ngetes apakah mereka yakin dengan pertanyaan sendiri
atau tidak (tertawa).

* * *

Nama: Hadi Susanto
Tanggal lahir: Lumajang, 27 Januari 1979
Istri: dr. Nurismawati Maghfira

Pekerjaan:Dosen matematika di University of Nottingham, Inggris

Pendidikan:

* MSc dan PhD dari Universiteit Twente, Belanda

* Sarjana Matematika ITB, Bandung

Penghargaan:
Ganesha Prize (Mahasiswa Terbaik ITB) 2000

Karya Sastra:
Puisi

* Graffiti Gratitude (YMS/Angkasa Bandung, 2001)

* Les Cyberletters: antologi puisi cyberpunk (YMS, 2005)

* Dian Sastro for President #3 (On/Off Book & Insist Press,
2005)

Cerpen

* Merah di Jenin (FBA Press, 2002)

* Jika Cinta (Senayan Abadi, 2004)

* Dari Negeri Asing (Syaamil, 2001)

* Graffiti Imaji (YMS, 2002)


- Dedi -

Juni 20, 2008 - Ditulis oleh muchyidin | Sosok | | 1 Komentar

1 Komentar »

  1. Rip baguse sih aja Full ditampilake ning halaman utama…. Kalau mau full article bisa klik di judul artikelnya atau klik >>read this article gitu
    coba ente liat di blogku itu :D

    Komentar oleh supriman | Juni 20, 2008


Tinggalkan komentar